RSS

BYE Jogja Hanya tiga kata “BYE” tapi serasa berat sekali untuk diucapkan. Rabu, 24 Agustus 2016, aku berangkat menuju ibu kota, meninggalkan kota istimewa yang sejatinya aku sudah terlalu nyaman dengan kota ini. Kota dengan segala keindahan alamnya, keragaman budaya dan penghuninya. Tak akan pernah ada habisnya kalau aku bercerita tentang kota ini. Aku harus move on. Lembaran baru akan segera dimulai. Merantau ke ibu kota. Memang keberangkatan ini terlalu mendadak sekali. Padahal ada banyak kewajiban yang harus aku tunaikan di kota istimewa ini, namun aku harus rela meninggalkan zona nyaman ini untuk memulai sebuah langkah baru. Tiket kereta ini pun yang ngurusin temen yang sudah merantau dijakarta. Dia adalah nina temen SMK dulu yang sekarang sudah bekerja di salah satu perusahaan kontraktor di Kebon Jeruk. Terimakasih nina ,,love u pullll pokoknya udah bantuin aku.. Keberangkatanku disana sebenarnya bukan tanpa beban. Aku masih ada banyak tanggungjawab yang harus diselesaikan. Tapi maafkalah diri ini yang terlalu egois memutuskan untuk pergi. Saat itu aku masih berstatus karyawan training disalah satu BMT yang ada di Timoho. Trainingnya sih di BMT tapi rencananya mau diajakin memulai sebuah PT yang baru akan dimulai. Awalnya tawaran ini memang sangat menantang sekali dalam pikiranku. Memulai sebuah perusahaan dari nol, pasti akan banyak ilmu yang akan aku dapatkan dari sini. Namun fakta berkata lain. PT baru belum dimulai, namun aku sudah memutuskan untuk pergi dari semuanya. Sore itu, selasa 23 agustus 2016, aku menemui Pak Wawan, beliau adalah manajer BMT sekaligus orang yang mengajakku untuk memulai PT baru. Aku sampaikan maaf dan pamit karena tidak bisa melanjutkan perjuangan ini. Awalnya pertemuanku dengan beliau aku rasa sebagai jawab Allah yang pada saat itu sedang menunggu wisuda dan mencari pekerjaan. Pekenalanku dengan beliau pun bukan sebuah kebetulan. Aku dikenalkan dengan beliau oleh partner perjuanganku dikopma yaitu Nuri dan Fitri. Mereka sempet magang di BMT yang Pak Wawan pimpin, saat mereka mengurus laporan mereka berbagi cerita dengan pak wawan terkait rencana pak wawan untuk mendirikan perusahaan baru. Dari situlah aku dikenalkan dengan Beliau. Pertemuan pertama dengan beliau, langsung membuatku interest sekali. Harapan dan doaku seolah dijawab semua oleh Allah. Beliau adalah sosok yang religius, bahkan dalam percakapan kami, beliau selalu menyelipkan ayat-ayat Allah yang membuatku menjadi semakin semangat untuk bergabung bersama beliau. Setelah memutuskan untuk meninggalkan masa lalu yang kacau, hari itu aku benar-benar merasakan janji Allah yang menyatakan bahwa, ketika kamu meninggalkan hal yang buruk maka Aku akan menggantinya dengan hal baru yang lebih baik. Tanpa berpikir panjang aku menerima tawaran beliau. Tiada kontrak tiada tes layaknya seorang karyawan baru. Tapi aku percaya beliau adalah sosok yang patut aku percaya. Sebulan berlalu bekrja bersama beliau. Lingkungan baru ini ternyata sebagaiaman impianku dalam angan selama ini. BMT ini bekerjasama dengan sebuah yayasan islam yang memiliki sekolah mulai dari TK, SD, SMP dan SMA. Tak usah aku cerikan lah ya. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana lingkungan baruku ini. Penuh dengan kedamaian. Kedamaian ini mungkin akan terasa lengkap ketika aku diterima di salah satu pondok belajar yang ada di papringan jogja. Namun Allah belum mengizinkan ku menimba ilmu disana. Saat itu aku ditolak karena statusku yang sudah bukan mahasiswa lagi. Ya sudahlah mungkin ada tempat lain yang sudah Allah siapkan untukku menimba ilmuNya. Suasana ini aku rasakan sebulan lamanya. Dalam hati selalu bersyukur karena dengan bekerja disini aku juga bisa menunaikan kewajibanku di kopma sebagai anggota pengawas bidang keuangan, ya meskipun dengan berbagai kekurangan. Tibalah saatnya aku mendapatkan hak dari hasil kerjaku selama sebulan di perusahaan ini. Hari yang aku tunggu-tunggu karena ini adalah gajian pertamaku. Sore itu aku dibuatkan buku tabungan oleh Mb Yuni (salah satu karyawan di BMT). Buku tabungan itu kemudian dikasih ke aku , Mb Yuni ,”Dek, selamat ya ini gajian pertamanya. Aku, “ terimaksih mb”. Aku sudah penasaran berapa gaji yang akan aku terima karena memang sebagaimana yang sudah aku ceritakan di awal. Aku masuk ke perusahaan ini tanpa adanya hitam diatas putih mengenai hak dan kewajibanku. Dengan hati dan tangan bergetar aku buka buku tabungan itu. Dan ternyata diluar pradugaku. Nilai itu tak sama dengan apa yang aku dengar sebelumnya. Keesokan harinya aku menghadap Pak wawan menceritakan isi hati. Dan kalian tau apa tanggapan pertama yang beliau sampaikan???? Sejak dari mengetok pintu aku sudah tau maksud kamu datang ke ruangan ini “, kata Pak Wawan. Beliau kemudian menjelaskannya dan saya juga bisa menerima alasan itu. Bagi saya beliau adalah tetap sosok yang ku kagumi dalam tutur dan tindakannya dalam memimpin kami. Mendengar penjelasan beliau, cukup membuatku lega dan aku masih bertahan disini. Namun dalam hati kecil sebarnya bertanya, Apakah bisa??? Sebagai seorang muslim memang tidak seharusnya pertanyaan itu muncul. Karena Tuhanku sendiri yang berjanji tidak akan memberi ujian yang melebihi kemampuan hambanya (Al-baqarah:286). Kebimbangan itu akhirnya memuncak setelah aku mendapat telepon dari temenku yang sudah dijakarta. bersambung

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar